Pemeriksaanfisik pada ibu hamil selain bertujuan untuk mengetahui kesehatan ibu dan janin saat ini, juga bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada pemeriksaan berikutnya. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang sederhana (objective) 3. 10 desember 2015 status revisi : Pemeriksaan antenatal care pada ibu hamil.
PentingnyaPemeriksaan Kehamilan Tiap Semester Pemeriksaan Kehamilan Trimester Pertama Pemeriksaan Kehamilan Trimester Kedua Pemeriksaan Kehamilan Trimester Ketiga Produk Rekomendasi MamyPoko Pants Standar L 30 - SO Rp 49.500 Lactogrow 3 Vanila 1Kg Rp 123.000 Minyak Telon Bebe Roosie + Lavender & Olive Oil 6 4 % Rp162.900 Rp 155.900
Jenispemeriksaan yang berbeda dari pemeriksaan trimester 1 yakni pemeriksaan gigi. Ya, jadi ibu hamil di usia trimester 2 rentan mengalami gangguan pada mulutnya, baik gusi ataupun giggi. Pemeriksaan TORCH tergolong sebagai pemeriksaan penunjang. TORCH ini merupakan gabungan 4 jenis infeksi yakni toxoplasma gondii, rubella, cytomegalovirus
Pemeriksaantekanan darah ini wajib dilakukan oleh ibu hamil trimester 1. Sebab ibu hamil sangat rentan terserang penyakit hipertensi. Normalnya tekanan darah sistolik/diastolik pada ibu hamil berkisar 90/60 mmHg - 120/80 mmHg. Kenaikan tekanan darah selama kehamilan yang terlalu tinggi atau rendah bisa menganggu kesehatan janin.
Pemeriksaanini mengukur persentase sel darah merah dalam sampel darah. Jika ibu hamil memiliki kadar hemoglobin atau hematokrit lebih rendah dari tingkat normal, ia mungkin mengalami anemia kekurangan zat besi.
Sementarapemeriksaan X-ray yang dilakukan pada usia kandungan di atas 2 bulan, akan berisiko menyebabkan bayi lahir dengan masalah intelektual. Sehingga sampai saat ini, ibu hamil biasanya tidak disarankan untuk menjalani pemeriksaan X-ray, kecuali dalam kondisi darurat disertai dengan izin dokter kandungan, dan dokter spesialis radiologi.
2Pemeriksaan Penunjang Thalassemia pada Ibu Hamil. Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani : 18 Oktober 2020. Halodoc, Jakarta - Thalassemia adalah kelainan darah bawaan (genetik) yang terjadi ketika gen yang bermutasi memengaruhi kemampuan tubuh untuk membuat hemoglobin yang sehat, yakni protein kaya zat besi yang ditemukan dalam sel darah
Pemeriksaandilakukan secara berurutan dan terstruktur. Langkah-langkah pemeriksaan ini yaitu : Memperhatikan wajah ibu hamil, apakah wajah ibu hamil terlihat pucat ataupun mengalami pembengkakan. Selain itu memeriksa sclera mata. Memeriksa mulut hal yang diperiksa yaitu bibir dan juga gigi.
Ibuhamil bisa mengenali kondisi ini melalui gerakan janin yang dirasa berkurang. Selain dengan mengamati pergerakan janin, kondisi ini juga bisa dideteksi melalui beberapa pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan detak jantung janin, USG hingga pemeriksaan air ketuban.
XlMa7. Komplikasi seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan sejenisnya dapat berbahaya sehingga harus lebih sering dipantau. Hal serupa juga berlaku untuk imunisasi. Imunisasi sebaiknya tetap dilakukan sesuai jadwal, terutama untuk vaksin kedua dan selanjutnya serta vaksin booster. Akan tetapi, pemberian vaksin yang pertama kali dapat disesuaikan dengan situasi Anda. Kapan waktu terbaik untuk memeriksakan kehamilan? Setiap kehamilan itu unik dan setiap ibu menghadapi kondisi yang berbeda. Jadi, tidak mudah menentukan waktu pemeriksaan terbaik bagi semua ibu. Cara menentukannya adalah dengan pertimbangan dokter yang sebelumnya memeriksa Anda. Jika pemeriksaan terakhir Anda adalah bulan ini misalnya, dokter sudah tahu apa yang diharapkan pada pemeriksaan selanjutnya bulan depan. Asalkan tidak ada komplikasi, pemantauan bisa saja ditunda hingga dua atau tiga bulan setelahnya. Waktu pemeriksaan yang tepat bergantung pada kondisi ibu dan bayi. Namun, sebagai patokan umum, pemeriksaan trimester pertama boleh diberi jarak. Begitu memasuki trimester akhir, pemeriksaan perlu lebih rutin karena ada persiapan menuju persalinan, termasuk screening COVID-19 bagi ibu hamil. Jika pemeriksaan ditunda, apa risikonya bagi ibu dan janin? Menunda pemeriksaan kehamilan selama pandemi COVID-19 memang ada risikonya. Meski demikian, risiko ibu tertular COVID-19 juga sama besarnya. Ibu hamil kemudian bisa saja menularkan virus ke tenaga medis ataupun keluarga di rumah. Risiko yang pertama adalah Anda tidak bisa memonitor perkembangan janin. Ini berarti janin bisa saja kekurangan gizi. Mungkin ada perubahan pada janin yang tidak diketahui karena Anda tidak dapat melakukan pemeriksaan USG. Selain itu, kondisi dalam tubuh Anda mungkin juga berubah, tetapi dokter tidak dapat mendeteksinya kecuali dengan tes darah. Ini sebabnya penundaan pemeriksaan hanya berlaku untuk kehamilan tanpa komplikasi. Kedua, ketika terjadi kondisi darurat, tindakan medis untuk ibu juga jadi berisiko. Hal ini disebabkan karena ibu tidak sempat menjalani screening atau pemeriksaan penunjang. Tindakan operasi atau persalinan darurat bisa berdampak besar bagi ibu dan janin. Mencegah tertular COVID-19 saat pemeriksaan kehamilan Pencegahan COVID-19 pada ibu hamil sebenarnya sama dengan pencegahan pada umumnya. Bila ibu memang harus melakukan pemeriksaan kehamilan selama pandemi COVID-19, berikut beberapa tips untuk mengurangi risiko penularan Jangan membawa barang yang tidak perlu. Bahkan, Anda sebaiknya tidak perlu membawa ponsel ke ruang pemeriksaan. Menggunakan kendaraan pribadi saat pergi ke rumah sakit. Selalu menggunakan masker. Anda boleh memakai masker kain, yang penting pakailah dengan benar dan jangan dipegang. Mencuci tangan sebelum masuk dan setelah keluar dari rumah sakit. Begitu sampai di rumah, segera mandi, keramas, dan mengganti baju. Screening juga sama pentingnya untuk mencegah penularan. Pasalnya, terkadang ibu hamil tertular dari pasien tanpa gejala dan tidak sadar dirinya juga telah terjangkit. Screening dapat mencegah penularan ke tenaga medis atau bayi yang baru lahir. Sejauh ini, belum ada bukti bahwa virus SARS-CoV-2 bisa berpindah langsung dari tubuh ibu ke tubuh janin. Meski demikian, ibu dapat menularkan COVID-19 kepada bayi melalui proses persalinan dan menyusui. Tenaga medis juga bisa tertular COVID-19 apabila tidak mengenakan alat pelindung diri APD selama membantu persalinan. Inilah mengapa ibu harus menjalani tes screening COVID-19 terlebih dulu pada trimester akhir kehamilan. Saat Ibu Diduga Terinfeksi Coronavirus Melahirkan, Apa Dampaknya? Apa yang harus dilakukan ibu hamil menjelang persalinan? Ada banyak persiapan yang harus dilakukan ibu hamil menjelang persalinan. Maka dari itu, pemeriksaan kehamilan pada trimester akhir tetap perlu rutin dilakukan walaupun di tengah pandemi COVID-19. Setiap kali Anda pergi memeriksakan kehamilan, selalu lakukan upaya pencegahan dan jaga kebersihan diri. Ibu hamil dan suami sebaiknya jangan bepergian bila tidak terlalu penting, kecuali untuk mendapatkan penanganan medis. Simpan kontak dokter yang memeriksa Anda serta alamat rumah sakit terdekat untuk persalinan. Konsultasikan dengan dokter setiap kali terdapat tanda-tanda persalinan. Waspadai pula gejala COVID-19 maupun perubahan lain pada tubuh Anda. Persiapkan rute alternatif jika jalan di sekitar rumah Anda ditutup selama pembatasan sosial berskala besar PSBB. Selain langkah-langkah tersebut, proses kehamilan dan persalinan sejatinya dapat berjalan dengan normal. Pandemi COVID-19 tentu berdampak besar bagi ibu hamil, terutama bila menyangkut soal pemeriksaan kehamilan. Saya sendiri berpatokan bila keadaannya memungkinan, maka ibu sebaiknya kontrol. Jika tidak, ibu tetap bisa memantau kondisinya di rumah. Kuncinya yakni melihat kesehatan ibu dan janin serta rutin berkonsultasi dengan dokter sekalipun hanya melalui chat. Dengan cara ini, Anda bisa tetap menjaga perkembangan janin sekaligus mengurangi risiko penularan COVID-19.
Konsultasi kehamilan adalah pemeriksaan yang dilakukan secara rutin selama masa kehamilan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa kondisi dan perkembangan janin. Jadwal konsultasi kehamilan akan disesuaikan oleh dokter dengan usia kandungan ibu hamil. Masa kehamilan adalah periode ketika embrio terbentuk, tumbuh, dan berkembang di dalam rahim wanita sebagai hasil pembuahan sel telur dan sperma. Embrio akan terus berkembang hingga berbentuk janin, kemudian janin lahir saat usia kehamilan mencapai sekitar 40 minggu. Konsultasi dan pemeriksaan kehamilan secara rutin diperlukan untuk memastikan agar sang ibu dan janin dalam keadaan sehat. Selain itu, konsultasi kehamilan juga memiliki beberapa tujuan, yaitu Memeriksa kondisi janin dan memantau perkembangannya Menurunkan risiko komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu hamil dan janin Mendeteksi kelainan atau gangguan yang mungkin terjadi pada janin sejak dini Mempermudah ibu hamil dalam menjalani masa kehamilan Memperlancar proses persalinan dan mengurangi risiko penyulit yang dapat membahayakan ibu dan janin selama persalinan Dokter yang secara khusus menangani pemeriksaan kehamilan disebut sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau lebih umum disebut dokter kandungan. Tujuan dan Indikasi Konsultasi Kehamilan Konsultasi kehamilan penting dilakukan oleh setiap ibu hamil sejak awal hingga akhir masa kehamilan. Jadwal konsultasi umumnya dilakukan sesuai usia kandungan ibu hamil, yaitu 1 kali dalam 1 bulan untuk usia kandungan 4–28 minggu 2 kali dalam 1 bulan untuk usia kandungan 28–36 minggu 4 kali dalam 1 bulan setiap minggu untuk usia kandungan 36 minggu hingga masa persalinan Pada beberapa kondisi, ibu hamil dianjurkan untuk lebih sering menjalani konsultasi kehamilan dari jadwal di atas. Kondisi tersebut antara lain Berusia 35 tahun atau lebih Menderita penyakit yang berisiko tinggi menimbulkan komplikasi kehamilan, seperti diabetes atau tekanan darah tinggi Mengalami kehamilan kembar Memiliki riwayat kelahiran prematur atau muncul tanda bayi akan terlahir prematur Peringatan dan Kontraindikasi Konsultasi Kehamilan Tidak ada larangan atau peringatan khusus untuk menjalani konsultasi kehamilan bagi ibu hamil. Pemeriksaan ini justru penting dijalani oleh ibu hamil. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat mendeteksi apabila ada gangguan pada kehamilan. Sebelum Konsultasi Kehamilan Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh ibu hamil sebelum menjalani konsultasi kehamilan, yaitu Riwayat kesehatan secara keseluruhan Konsultasi kehamilan pertama biasanya akan meninjau riwayat penyakit ibu hamil, termasuk riwayat kesehatan pasangan dan keluarga. Ibu hamil sebaiknya membawa hasil pemeriksaan terdahulu, seperti, hasil tes laboratorium dan hasil pemeriksaan penunjang lain, misalnya USG, foto Rontgen, CT scan, atau MRI. Jenis obat atau produk herba yang sedang atau pernah dikonsumsi Ibu hamil sebaiknya membawa daftar obat, termasuk vitamin dan suplemen, yang sedang dikonsumsi. Hal ini karena beberapa jenis obat tidak aman untuk dikonsumsi selama hamil. Daftar pertanyaan Sebelum menjalani konsultasi kehamilan, ibu hamil sebaiknya membuat daftar pertanyaan mengenai hal-hal yang ingin diketahui seputar kehamilan. Urutkan pertanyaan mulai dari yang paling penting. Prosedur Konsultasi Kehamilan Jenis konsultasi kehamilan dan pemeriksaan yang dilakukan selama kehamilan dapat berbeda, tergantung pada usia kandungan. Berikut adalah penjelasannya Konsultasi kehamilan trimester pertama 0–12 minggu Pada kehamilan trimester pertama, jenis pemeriksaan yang dilakukan adalah 1. Pemeriksaan riwayat kesehatan Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan yang meliputi Siklus menstruasi Riwayat kehamilan sebelumnya Riwayat kesehatan pasien dan keluarganya Obat-obatan yang sedang dikonsumsi, termasuk obat resep dan suplemen Gaya hidup yang dijalani pasien, termasuk kebiasaan merokok atau konsumsi minuman beralkohol Dokter juga akan menentukan hari perkiraan lahir HPL. Penentuan HPL dilakukan agar dokter dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan kehamilan pasien, serta menentukan jadwal konsultasi dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan ke depannya. 2. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa dan memastikan kondisi tubuh pasien sehat selama masa awal kehamilan. Jenis pemeriksaan yang dilakukan meliputi Pengukuran tinggi dan berat badan pasien sehingga dokter bisa menentukan indeks massa tubuh yang ideal sesuai perkembangan kehamilan Pemeriksaan tanda vital, meliputi tekanan darah, detak jantung, dan frekuensi pernapasan Pemeriksaan panggul, dengan memasukkan dua jari ke dalam vagina dan satu tangan di perut, untuk menentukan ukuran rahim dan panggul pasien 3. Pemeriksaan laboratorium Dokter juga akan meminta pasien untuk menjalani tes darah dan tes urine dengan tujuan berikut Memeriksa golongan darah, termasuk ABO dan resus Rh Mengukur jumlah hemoglobin, karena hemoglobin yang rendah merupakan tanda anemia yang jika dibiarkan dapat membahayakan perkembangan janin Memeriksa respon sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi tertentu, seperti rubella dan cacar air Mendeteksi kemungkinan adanya paparan infeksi pada ibu hamil, seperti hepatitis B, toksoplasmosis, sifilis, dan HIV 4. Pemindaian Jenis tes pemindaian yang dilakukan saat konsultasi kehamilan trimester pertama adalah USG. USG biasanya dilakukan paling cepat pada usia kehamilan 8 minggu. Jenis USG yang dapat dilakukan adalah USG panggul atau USG transvaginal. Tujuannya antara lain untuk Menentukan usia kandungan Mendeteksi gangguan yang mungkin dialami ibu hamil Mendeteksi kelainan pada janin Mendengar detak jantung janin, yaitu pada usia kandungan 10–12 minggu Konsultasi kehamilan trimester kedua 13–28 minggu Tujuan konsultasi kehamilan pada trimester kedua adalah untuk memastikan ibu hamil dan janin dalam keadaan sehat. Jenis pemeriksaan yang dilakukan selama konsultasi kehamilan trimester kedua adalah 1. Pemeriksaan dasar Dokter akan mengukur tekanan darah dan berat badan ibu hamil. Dokter juga akan menanyakan keluhan yang mungkin terjadi selama kehamilan. 2. Pemeriksaan kondisi janin Pemeriksaan ini umumnya meliputi beberapa hal, yaitu Memeriksa perkembangan janin dengan mengukur jarak dari tulang kemaluan ke bagian atas rahim Mendengar detak jantung janin dengan menggunakan alat khusus yang disebut Doppler Mengamati pergerakan janin yang umumnya terjadi pada usia kehamilan 20 minggu 3. Tes prenatal Selama trimester kedua, dokter akan menganjurkan ibu hamil untuk menjalani beberapa tes, yaitu Tes darah, untuk menghitung jumlah sel-sel darah dan kadar zat besi serta memantau kadar gula darah Tes urine, untuk mendeteksi adanya protein dalam urine, serta memeriksa tanda-tanda infeksi Tes genetik, untuk mendeteksi kelainan genetik yang bisa terjadi pada janin, seperti sindrom Down dan spina bifida USG janin, untuk memeriksa struktur tubuh janin dan mengetahui jenis kelamin janin Tes diagnostik, seperti amniocentesis, untuk mendeteksi kelainan pada janin Konsultasi kehamilan trimester ketiga 28–40 minggu Beberapa jenis pemeriksaan yang dilakukan selama konsultasi kehamilan trimester ketiga adalah 1. Pemeriksaan dasar ulang Dokter kandungan akan mengukur kembali tekanan darah dan berat badan ibu hamil, serta memantau pergerakan dan detak jantung janin. Tes urine juga kembali dilakukan untuk mendeteksi infeksi atau adanya protein dalam urine. 2. Pemeriksaan posisi janin Pada akhir masa kehamilan, dokter akan memperkirakan berat janin dan mengamati posisi janin, misalnya apakah kepala janin telah berada di pintu rahim. Jika posisi bokong janin berada di dekat pintu rahim sungsang, dokter akan berusaha untuk mengubah posisi janin dengan menekan perut ibu hamil. Dengan begitu, ibu hamil tetap bisa menjalani persalinan melalui vagina. 3. Pemeriksaan infeksi bakteri Streptococcus Grup B GBS Jenis bakteri ini sering ditemukan di usus dan saluran kelamin bagian bawah. Bakteri GBS biasanya tidak berbahaya bagi orang dewasa. Namun, jika bayi terinfeksi bakteri ini selama proses persalinan, bayi dapat mengalami gangguan kesehatan yang serius. Dokter akan mengambil sampel dengan mengusap vagina menggunakan kapas untuk dianalisis di laboratorium. Jika hasil tes positif GBS, ibu hamil akan diberikan infus antibiotik selama persalinan. 4. Pemeriksaan serviks Jika masa persalinan sudah dekat, dokter kandungan akan melakukan pemeriksaan panggul untuk mendeteksi perubahan serviks leher rahim. Pada tahap ini, serviks akan mulai melunak, membesar, dan menipis. Selanjutnya, leher rahim akan terbuka menjelang persalinan. Pembukaan serviks dinyatakan dalam ukuran centimeter cm. Setelah Konsultasi Kehamilan Setelah ibu hamil menjalani konsultasi dan pemeriksaan kehamilan, dokter akan meninjau hasil pemeriksaan fisik, tes laboratorium, dan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan. Melalui hasil pemeriksaan, dokter dapat menentukan kesehatan ibu hamil dan janin, mendeteksi kelainan, dan melakukan tindakan pencegahan jika kehamilan tersebut berisiko tinggi. Jika janin berisiko mengalami kelainan, dokter dapat melakukan beberapa tes diagnosis untuk memastikan kondisi janin, yaitu Amniocentesis untuk memeriksa kromosom bayi Fetal blood sampling FBS atau pemeriksaan sampel darah janin yang diambil dari tali pusat Chorionic villus sampling CVS atau pengambilan sampel sel chorionic villus dari bagian plasenta dengan menggunakan jarum khusus, untuk diperiksa di laboratorium Selain menjalani konsultasi dan pemeriksaan kehamilan secara rutin, ada beberapa hal yang dapat dilakukan ibu hamil untuk menjaga kesehatan tubuh dan janin, yaitu Mengonsumsi vitamin asam folat secara rutin setiap hari Tidak merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol Berolahraga atau melakukan aktivitas fisik ringan secara rutin Mengonsumsi makanan bergizi, termasuk buah, sayuran, gandum utuh, dan makanan tinggi kalsium Minum air yang banyak Beristirahat yang cukup Tidak berendam di dalam bak mandi air panas hot tub atau sauna terlalu lama Mencari tahu informasi tentang kehamilan dan persalinan, baik dari buku, video, maupun secara daring online Menjauhi paparan zat kimia, seperti insektisida, larutan cat atau pembersih, timbal, dan merkuri Komplikasi atau Efek Samping Konsultasi Kehamilan Konsultasi kehamilan merupakan pemeriksaan yang aman, bahkan dianjurkan untuk dijalani oleh ibu hamil. Namun, ibu hamil dapat mengalami komplikasi akibat prosedur pemeriksaan amniocentesis, fetal blood sampling FBS, dan chorionic villus sampling CVS. Meski sangat jarang terjadi, amniocentesis dan CVS dapat menimbulkan komplikasi berupa keguguran. Sementara, pemeriksaan FBS dapat menimbulkan komplikasi berupa perdarahan hingga infeksi di area pemeriksaan.
Dok. Nakita Peran kader posyandu dalam pendampingan ibu hamil – Kader posyandu memiliki tanggung jawab mendampingi ibu hamil selama pemeriksaan. Maka dari itu, posyandu memegang peranan penting selama masa kehamilan yang dialami Moms. Tapi apa saja yang akan dilakukan kader posyandu saat ibu hamil melakukan pemeriksaan? Simak selengkapnya di sini. Selama masa kehamilan, Moms tentunya ingin kehamilan berjalan dengan baik sampai persalinan nanti. Sehingga berusaha untuk memantau dan memeriksan kesehatan setiap waktu. Nah salah satu caranya adalah dengan ikut posyandu. Posyandu tidak hanya memiliki sasaran untuk bayi dan balita, melainkan juga termasuk di dalamnya untuk ibu hamil. Ibu hamil dapat memulai ikut pertemuan rutin ke Posyandu sejak trimester pertama. Kehadiran Posyandu pada ibu hamil adalah untuk menjaga kesehatan ibu dan janinnya, mencegah dan mengatasi masalah kehamilan, membantu masalah gizi hingga masalah sosial. Selain itu Posyandu juga dapat memberikan pendidikan penyuluhan dalam masalah persalinan dan nifas, cara menjaga diri agar tetap sehat selama masa hamil. Berikut ini adalah beberapa peran posyandu untuk ibu hamil. Baca Juga Peran Penting Kader Posyandu dalam Pencegahan Stunting pada Anak Artikel ini merupakan bagian dari Parapuan Parapuan adalah ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya. PROMOTED CONTENT Video Pilihan
Pemeriksaan kehamilan dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan ibu hamil maupun janin. Jenisnya pun beragam, mulai dari pemeriksaan USG hingga tes darah. Namun, tidak semua pemeriksaan perlu dilakukan oleh ibu hamil setiap saat dan umumnya disesuaikan dengan usia kehamilan. Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Selain memantau kesehatan, pemeriksaan kehamilan juga bermanfaat untuk mencegah sekaligus mendeteksi penyakit pada ibu hamil dan janin sejak dini. Dengan begitu, penanganan medis bisa diberikan lebih awal. Kapan Harus Melakukan Pemeriksaan Kehamilan? Pemeriksaan kehamilan sebaiknya dilakukan sebanyak 8 kali, yang terbagi berdasarkan trimester kehamilan. Berikut ini adalah penjelasannya Trimester pertama Pada usia kehamilan di bawah 12 minggu ini, ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan kehamilan setidaknya 1 kali di rumah sakit atau klinik. Trimester kedua Saat usia kandungan 13–27 minggu, pemeriksaan kehamilan perlu dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu ketika usia kehamilan 20 minggu dan 26 minggu. Trimester ketiga Di trimester ketiga, ibu hamil wajib menjalani pemeriksaan kehamilan sebanyak 5 kali, yaitu saat usia kandungan 30, 34, 36, 38, dan 40 minggu. Meski ibu hamil umumnya akan melahirkan saat usia kandungan memasuki 40 minggu, ada sebagian ibu hamil yang mungkin saja belum juga melahirkan hingga usia kandungannya 41 minggu. Jika Bumil mengalaminya, segeralah periksakan diri ke dokter. Jenis Pemeriksaan Kehamilan Wajib Menurut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia WHO, ada beberapa pemeriksaan kehamilan yang perlu dilakukan ibu hamil, yaitu 1. Konsultasi Hal pertama yang dilakukan saat pemeriksaan kehamilan adalah konsultasi. Dokter akan bertanya tentang keluhan yang Bumil alami saat ini dan riwayat penyakit. Hal ini dilakukan untuk memantau kondisi kesehatan dan menilai risiko terjadinya penyakit. Selama konsultasi, dokter juga akan menganjurkan Bumil untuk menjalani pola hidup sehat, misalnya berhenti merokok dan berhenti mengonsumsi minuman beralkohol, serta menjalani pola makan sehat untuk mencukupi asupan nutrisi selama hamil. Bagi ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit asam lambung, dokter juga akan menganjurkan untuk menghindari makanan pemicu asam lambung naik. 2. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan kehamilan selanjutnya adalah pemeriksaan fisik untuk menilai kondisi ibu hamil secara umum. Jenis pemeriksaan fisik yang biasanya dilakukan meliputi pemeriksaan tekanan darah hingga pemeriksaan fisik jantung dan paru-paru. Saat usia kandungan sudah mencapai 36 minggu, pemeriksaan Leopold perlu dilakukan untuk mengetahui posisi dan letak bayi dalam kandungan. Pemeriksaan ini juga bertujuan untuk menentukan proses persalinan. 3. Tes darah Tes darah perlu dilakukan secara rutin oleh setiap ibu hamil. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah ibu hamil mengalami penyakit tertentu dan mendeteksi kelainan pada janin. Jenis tes darah yang umumnya dilakukan pada ibu hamil adalah tes darah lengkap dan tes gula darah. Tes darah lengkap bertujuan untuk menghitung kadar hemoglobin dalam sel darah merah dan jumlah sel darah putih. Bila kedua indikator tersebut berada di bawah angka normal, ini bisa menandakan ibu hamil mengalami anemia atau infeksi. Sementara itu, tes gula darah juga penting dilakukan untuk memantau kadar gula dalam tubuh ibu hamil dan mencegah diabetes gestasional. 4. Pemeriksaan USG Pemeriksaan kehamilan selanjutnya adalah USG. Pemeriksaan ini hanya diperlukan saat usia kehamilan 12 dan 20 minggu. USG umumnya bertujuan untuk mendeteksi kelainan pada janin, memastikan kehamilan kembar, dan mengetahui posisi plasenta. Selain beberapa pemeriksaan kehamilan di atas, jenis pemeriksaan lain bisa saja dilakukan. Namun, pemeriksaan tambahan tersebut hanya perlu dilakukan ketika ibu hamil memiliki tanda-tanda gangguan kesehatan atau riwayat penyakit tertentu yang memerlukan pemeriksaan khusus. Meski masih ada pemeriksaan lainnya, semua pemeriksaan kehamilan di atas sebenarnya sudah cukup untuk memantau dan menjaga kesehatan ibu hamil maupun janin. Hal yang perlu diingat, pemeriksaan kehamilan tidaklah murah sehingga perlu disesuaikan dengan dana dan kebutuhan Bumil, apalagi jika Bumil memakai asuransi kesehatan. Pastikan dahulu besarnya biaya dan jenis pemeriksaan yang ditanggung oleh asuransi. Biaya yang harus Bumil utamakan adalah biaya untuk persalinan. Persiapkan juga dana cadangan untuk penanganan komplikasi yang mungkin terjadi saat atau setelah persalinan. Jangan sampai dana atau tanggungan asuransi yang Bumil miliki justru habis karena pemeriksaan yang tidak sesuai tujuan. Oleh karena itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin oleh dokter perlu dilakukan secara tepat sasaran. Dengan begitu, kondisi kesehatan Bumil dan calon buah hati bisa terus terpantau dan proses persalinan pun dapat dipersiapkan dengan matang.
pemeriksaan penunjang pada ibu hamil